Perang Bizantium–Sassaniyah
Perang Anastasius
Peta perbatasan Romawi–Persia setelah pembagian Amenia pada 384 M. Garis depan relatif stabil sepanjang abad k-5M.
Perang pecah ketika raja Persia
Kavadh I berusaha memperoleh dukungan keuangan secara paksa dari
Kaisar Romawi Bizantium,
Anastasius I.
[65][66][67] Pada 502 M, dia dengan cepat menaklukkan kota
Theodosiopolis yang tidak siap diserang
[68][69] dan kemudian mengepung
Amida.
Pengepungan kota-benteng itu terbukti jauh lebih sulit daripada yang
Kavadh perkirakan; pasukan bertahan berhasil menahan serangan Persia
selama tiga bulan sebelum akhirnya dikalahkan.
[70][71]
Pada 503 M, Romawi berupaya merebut kembali Amida namun gagal.
Sementara itu Kavadh menginvasi Osroene, dan kemudian mengepung Edessa
yang berujung kegagalan.
[72] Akhirnya pada 504 M, Romawi merebut Amida melalui
investasi militer. Pada tahun tersebut, gencatan senjata tercapai sebagai akibat dari invasi Armenia oleh
suku Hun dari
Kaukasus. Meskipun kedua pihak bernegosiasi, baru pada bulan November 506 M perjanjian tersebut disetujui.
[73][74] Pada 505 M, Anastasius memerintahkan pembangunan kota berbenteng besar di
Dara. Pada saat yang sama, perbentengan yang rusak juga diperbaharui di Edessa,
Batnae dan Amida.
[75][76]
Meskipun tidak ada lagi konflik berskala besar yang terjadi selama sisa
masa pemerintahan Anastasius, namun ketegangan terus berlanjut,
khususnya ketika pembangunan berlangsung di Dara. Ini karena pembangunan
perbentengan baru di zona perbatasan oleh kedua kekaisaran sebenarnya
telah dilarang melalui perjanjian yang telah disepakati beberapa dekade
sebelumya. Akan tetapi Anastasius terus melanjutkan proyek ini meskipun
Persia merasa keberatan. Tembok pertahanannya sendiri selesai dibangun
pada 507–508 M.
[74][77]
Kekaisaran Romawi dan Persia pada 477 M, serta negara-negara tetangga
merea, yang banyak diantaranya ikut terseret dalam perang antara dua
kekuatan besar itu.
Perang Iberia
Pada 524–525 M, Kavadh mengusulkan pada
Justinus I untuk mengadopsi putranya,
Khosrau, namun perundingan mereka berakhir dengan kegagalan.
[78][79][80] Ketegangan antara kedua pihak berujung kepada konflik ketika
Iberia Kaukasus di bawah
Gourgen membelot dan berpihak kepada Romawi pada 524–525 M.
[81] Pertempuran terbuka Romawi–Persia pecah di daerah
Transkaukasus dan Mesopotamia hulu pada 526–527 M.
[82]
Pada tahun-tahun awal dalam perang tersebut, Persia lebih unggul: pada
527 M, pemberontakan Iberia berhasil dipadamkan, serangan Romawi ke
Nisibis dan
Thebetha pada tahun tersebut juga berhasil dipukul mundur, selain itu pasukan Romawi yang dikerahkan untuk melindungi
Thannuris dan
Melabasa juga berhasil dihalau oleh Persia.
[83][84] Berupaya memperbaiki kekurangan yang telah dimanfaatkan oleh Persia, kaisar Romawi yang baru,
Justinianus I, mengatur ulang
pasukan Romawi.
[85]
Pada 530 M, sebuah serangan besar Persia di Mesopotamia dikalahkan oleh pasukan Romawi di bawah
Belisarius pada
Pertempuran Dara, sedangkan serangan kedua Persia ke Kaukasus dikalahkan oleh Sittas di
Satala. Belisarius dikalahkan oleh pasukan Persia dan
Lakhmid dalam
Pertempuran Callinicum
pada 531 M. Pada tahun yang sama Romawi merebut beberapa benteng di
Armenia, sementara Persia menaklukkan dua benteng di Lazika timur.
[86] Tidak lama setelah kegagalan di
Callinicum, Romawi dan Persia berunding tanpa hasil.
[87]
Kedua pihak kembali berunding pada musim semi 532 M dan akhirnya
menyepakati Perdamaian Abadi pada bulan September 532 M, yang hanya
bertahan kurang dari delapan tahun. Kedua pihak setuju untuk
mengembalkan semua wilayah yang mereka rebut, dan Romawi bersedia
membayar sejumlah 110
centenaria (11,000 pon emas). Iberia tetap
berada di tangan Persia, dan orang-orang Iberia yang telah meninggalkan
negeri mereka diberi pilihan untuk tetap tinggal di wilayah Romawi atau
kembali ke tempat asal mereka.
[88][89]
Kekaisaran Romawi dan Sassaniyah pada masa pemerintahan
Justinianus:
|
Kekaisaran Romawi (Bizantium)
Wilayah yang direbut oleh Justinianus
|
Kekaisaran Sassaniyah
Negara vasal Sassaniyah
|
Justinianus vs. Khosrau I
Persia melanggar "Kesepakatan Perdamaian Abadi" pada 540 M,
kemungkinan sebagai tanggapan akibat penaklukan ulang Romawi di banyak
bekas wilayah
Kekaisaran Romawi Barat,
yang ikut dibantu dengan berhentinya perang di Timur. Khosrau I
menginvasi dan meluluhlantakkan Suriah, merampas sejumlah besar uang
dari kota-kota di Suriah dan Mesopotamia, dan secara sistematis menjarah
kota-kota lainnya termasuk
Antiokhia, yang penduduknya dikirim ke wilayah Persia.
[90][91]
Belisarius, dipanggil dari kampanye di Barat untuk menghadapi ancaman
Persia, melancarkan kampanye terhadap Nisibis pada 541 M yang berakhir
inkonklusif. Khosrau melancarkan serangan lainnya di Mesopotamia pada
542 M ketika dia berupaya menaklukkan
Sergiopolis.
[92][93]
Dia mundur dengan cepat ketika menghadapi pasukan Romawi di bawah
Belisarius, menjarah dan merusak kota Callinicum dalam perjalannya.
[94][95] Serangan terhadap sejumlah kota Romawi berhasil dipukul mundur, dan pasukan Persia dikalahkan di Dara.
[96][97] Pada 543 M, Romawi melancarkan serangan ke
Dvin namun dikalahkan oleh sejumlah kecil pasukan Persia di
Anglon. Khosrau mengepung Edessa pada 544 M namun gagal dan akhirnya disuap oleh pasukan bertahan.
[98] Setelah penarikan mundur pasukan Persia, utusan dari Romawi datang ke Ktesiphon untuk melakukan perundingan.
[99][100][101] Perjanjian damai selama lima disepakati pada 545 M, dan dijamin dengan pembayaran Romawi kepada Persia.
[99][102]
Perbatasan timur Romawi Romawi–Persia pada saat kematian Justinianus
pada tahun 565 M, dengan Lazika berada di tangan Romawi (Bizantium).
Pada awal 548 M, raja
Gubazes dari
Lazika
mendapati bahwa negerinya ditindas oleh Persia. Dia pun meminta kaisar
Justinianus untuk mengembalikan protektorat Romawi di sana. Justinianus
mengambil kesempatan itu, dan pada 548–549 M pasukan gabungan Romawi dan
Lazika berhasil meraih serangkaian kemenangan atas pasukan Persia,
meskipun mereka gagal merebut garnisun kunci di
Petra. Kota tersebut pada akhirnya diduduki pada 551 M, namun pada tahun yang sama, serangan Persia di bawah
Mihr-Mihroe berhasil menduduki Lazika timur.
[103]
Gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya pada 545 SM kembali
diperbaharui di dekat Lazika untuk lima tahun berikutnya dengan
ketentuan bahwa Romawi harus memabayr 2,000 pon emas tiap tahun.
[104] Di Lazika perang berlangsung inkonklusif selama beberapa tahun, dan kedua pihak tidak mampu memperoleh kesuksesan yang berarti.
[105] Khosrau, yang kini harus berurusan dengan
Suku Hun Putih,
memperbaharui gencatan senjata pada 557 SM, kali ini tanpa meliputi
Lazika; negosiasi berlangsung untuk perjanjian damai tanpa batasan yang
jelas.
[100][106]
Pada akhirnya, pada 561 M, utusan Justinianus dan Khosrau menyepakati
perdamaian selama lima puluh tahun. Persia sepakat untuk mengevakuasi
Lazika sedangkan Romawi diharuskan membayar 30,000
nomismata (
solidi) tiap tahun.
[107]
Kedua pihak juga sepakat untuk tidak membangun perbentengan baru di
dekat perbatasan dan melonggarkan pembatasan dalam hal diplomasi dan
perdagangan.
[108]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar