Zaman-Zaman Dan Sejarahnya
Zaman Poros
Tiga
filsuf pada Zaman Poros yang menyebarkan ajarannya di tiga belahan
dunia yang berbeda tanpa mengenal satu sama lain. Ajaran mereka masih
bertahan dan dipelajari hingga saat ini.
Zaman Poros, menurut
filsuf Jerman,
Karl Jaspers, adalah zaman saat pemikiran revolusioner bermunculan di
Tiongkok,
India,
Persia, dan
Dunia Barat selama rentang waktu antara
abad ke-8 hingga
ke-2 SM.
Pada zaman itu terjadi perkembangan gagasan filosofis dan religius
secara transformatif di berbagai belahan dunia dan kebanyakan terjadi
secara independen.
Di
India terjadi perkembangan tiga agama:
Hinduisme,
Buddhisme, dan
Jainisme. Hinduisme masa kini merupakan perkembangan dari
Brahmanisme (1500–500 SM) atau "Agama Weda Pra-Hindu", dan penyusunan
Regweda (kitab suci tertua bagi
umat Hindu, bagian dari empat
Weda) diduga terjadi pada masa 1100 SM.
[c] Penyusunan
Upanishad, yaitu suplemen bagi kitab
Weda diduga terjadi pada masa 900–800 SM.
[102] Pada abad ke-6 SM, di
India Utara,
Siddhartha Gautama dari
suku Sakya menyebarkan
Buddhisme atau agama Buddha yang merupakan bagian dari tradisi
Samana, paralel namun berbeda dengan pelopor Hinduisme. Sebagaimana Hinduisme, ajaran Buddha juga mengenal
karma,
reinkarnasi, dan
ahimsa, namun menolak
keberadaan Tuhan dan sistem
kasta. Pada abad ke-5 SM, bagian lain dari Samana, yaitu
Jainisme disebarkan oleh
Mahavira. Pendahulunya adalah
Pārśva
(abad ke-9 SM), yang juga merupakan pemimpin Jainisme menurut umat
Jaina. Seperti agama Buddha, Jainisme juga menolak keberadaan Tuhan. Di
antara ketiga agama tersebut, Hinduisme
mendominasi India, sedangkan Buddhisme lebih berkembang di
Asia Timur dan
Tenggara, sementara Jainisme menjadi agama minoritas.
Di
Asia Timur, tiga perguruan
filsafat telah mendominasi pemikiran bangsa
Tionghoa hingga masa kini. Ketiganya adalah
Legalisme (abad ke-8 SM),
[103] Taoisme (abad ke-6 SM),
[104] dan
Konfusianisme (abad ke-6 SM).
[105]
Legalisme adalah filsafat yang lebih mengutamakan sistem hukum daripada
pemikiran tinggi seperti alam dan tujuan kehidupan. Sementara itu,
Taoisme mengajarkan keharmonisan antara manusia dengan alam, diprakarsai
oleh
Laozi dan ajarannya terangkum dalam
Daode Jing.
[106] Meskipun hidup pada abad ke-6 SM, ada dugaan bahwa
Daode Jing disusun pada masa antara abad ke-4 hingga ke-3 SM.
[106] Ajaran Khonghucu (Konfusianisme) yang digagas
Kong Hu Cu, yang di kemudian hari memperoleh dominansi, mencari
moralitas politis tidak untuk paksaan melainkan untuk kekuatan dan keteladanan tradisi. Ajaran Khonghucu menyebar ke
semenanjung Korea hingga kepulauan
Jepang yang masih menganut
syamanisme dan kepercayaan tradisional lainnya.
Serikat Yesus di Tiongkok pada abad ke-16 dan ke-17 memandang Konfusianisme sebagai suatu sistem etis, bukan
agama, sehingga tidak akan bertentangan dan akan sejalan dengan
agama Kristen.
[107] Meskipun demikian,
penghormatan leluhur di Tiongkok
oleh beberapa kelompok dipandang bertentangan dengan ajaran Kristen
sehingga kini pelaksanaannya tidak dianjurkan lagi bagi orang Kristen
Tionghoa.
[108]
Di
Asia Barat, terjadi awal pemikiran
monoteisme di
Kanaan dan
Persia. Di Kanaan, bangsa
Yahudi memuja satu Tuhan yang disebut
Yahweh. Sementara itu,
monoteisme di Persia Kuno mengenal konsep ketuhanan Yang Maha Esa, dengan sebutan
Ahura Mazda. Ahura Maza memiliki oposisi yang disebut
Angra Mainyu, roh perusak, manifestasi dari kegelapan dan kejahatan. Di
Mediterania, tradisi filosofis bangsa
Yunani Kuno yang direpresentasikan oleh
Sokrates,
[109] Plato,
[110] dan
Aristoteles,
[111][112] tersebar di sepanjang
Eropa dan
Timur Tengah pada abad ke-4 SM karena penaklukkan yang dilakukan oleh Aleksander III dari Makedonia, lebih dikenal sebagai
Aleksander Agung.
[113]
| Garis waktu kemunculan agama dan aliran filsafat pada Zaman Poros (abad VIII–II SM) |
|
|
Perkembangan peradaban dan imperium
Sebelum
500 M (
abad ke-6), beberapa daerah di dunia mengalami kemajuan
teknologi yang perlahan namun pasti, dengan perkembangan penting seperti
sanggurdi dan
tenggala. Peradaban-peradan kuno mulai berinteraksi satu sama lain dalam hal perdagangan, religi, atau ekspansi militer.
Laut Tengah
(Mediterania), yang mencakup tiga titik benua, membantu perkembangan
kekuatan militer serta pertukaran komoditas, ide-ide baru, dan invensi
peradaban di sekitarnya.
Perdagangan
semakin berkembang menjadi sumber kekuasaan karena negara-negara yang
memiliki akses untuk sumber daya penting atau menguasai jalur
perdagangan penting akan bangkit dan mendominasi.
Di beberapa daerah, ada periode perkembangan secara pesat yang ditandai dengan pembangunan monumen kolosal, produksi
roda, dan pengembangan sistem ketatanegaraan; yang terkemuka adalah kawasan
Mediterania selama
periode Hellenistik, saat ratusan teknologi berhasil diciptakan.
[114][115] Pada masa awal peradaban juga bermunculan teknologi baru di darat, misalnya
kereta perang dan
pasukan berbasis kuda yang membuat pergerakan tentara menjadi lebih cepat. Teknologi tersebut berperan dalam kemajuan
militer; ekspansi wilayah serta pencaplokan teritori mulai terjadi, contohnya
Pertempuran Kadesh dan
Pengepungan Dapur pada abad ke-13 SM antara
bangsa Mesir dan
Het.
Penyatuan daerah-daerah taklukan berlanjut pada munculnya
imperium dan
kekaisaran,
manifestasi hegemoni suatu bangsa dan ekspansi suatu wilayah berdaulat.
Peradaban yang ekstensif dapat membawa kedamaian dan stabilitas bagi
daerah luas, contohnya periode
Pax Romana bangsa
Romawi.
Setelah perkembangan selama berabad-abad, peradaban lembah sungai di
berbagai belahan dunia menunjukkan kejayaannya dengan pendirian
kekaisaran. Pada masa seribu tahun dari 500 SM hingga 500 M, serangkaian
kekaisaran dengan luas wilayah yang belum pernah dicapai sebelumnya
telah berkembang. Tentara profesional yang terlatih dengan baik,
ideologi pemersatu, dan birokrasi yang lebih maju memberi peluang bagi para
kaisar untuk memerintah daerah yang sangat luas yang populasinya dapat mencapai angka sepuluh ribu atau lebih.
Afrika Utara (2500 SM–500 M)
Sekitar 2500 SM,
Kerajaan Kerma berkembang di kawasan
Nubia (antara
Sudan
dan Mesir). Kebudayaan Kerma merupakan kebudayaan agraris seperti
Mesir; mereka mengembangkan pertanian, peternakan, dan menjadi mitra
dagang bagi Mesir. Sekitar 1500 SM, kerajaan tersebut dicaplok oleh
bangsa Mesir dan menjadi bagian dari
Kerajaan Baru Mesir. Pada
abad ke-11 SM, bangsa Nubia mendirikan
Kerajaan Kush di sebelah selatan Mesir, di bekas wilayah Kerajaan Kerma, yang akan bertahan sampai
abad ke-4 M. Mesir Kuno mencapai masa kejayaannya saat periode Kerajaan Baru, di bawah pemerintahan Ramesses, yang berseteru dengan
bangsa Het,
Asiria dan
Mitanni.
Sesudahnya, Mesir mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Mesir
diserbu dan ditaklukkan oleh serangkaian kekuatan asing, di antaranya
suku dari
Kanaan/
Hyksos,
Libya,
Nubia,
Asiria,
Babilonia,
Persia, dan
Makedonia.
Pada
abad ke-6 SM,
Kambisus II menaklukkan
Mesir, menjatuhkan
Dinasti ke-26 Mesir. Krisis suksesi terjadi setelah ia jatuh sakit dan wafat.
Darius I bertindak sebagai penggantinya, berdasarkan klaimnya sebagai pewaris garis keturunan
Dinasti Akhemeniyah. Darius menetapkan ibukota pertamanya di
Susa, dan memulai proyek pembangunan di
Persepolis. Ia membangun kembali terusan antara
sungai Nil dan
Laut Merah. Ia mengimprovisasi sistem jalan yang ekstensif, dan reformasi besar lainnya terjadi pada masa pemerintahan Darius.
[116] Setelah wafatnya
Darius II pada 404 SM, bangsa Mesir melakukan pemberontakan. Kemudian
firaun Mesir berhasil menggagalkan usaha Persia untuk menaklukkan Mesir kembali, sampai akhirnya
Artahsashta III berhasil melakukannya.
Tahun 332 SM,
Aleksander Agung dari
Makedonia menaklukkan Mesir dengan sedikit perlawanan dari Persia. Sesudah wafatnya Aleksander, salah satu jenderalnya,
Ptolemeus Soter, mengangkat diri sebagai pemimpin baru Mesir. Administrasi yang didirikan penerus Aleksander, yaitu
Dinasti Ptolemaik, mengikuti cara Mesir dan beribukota di
Aleksandria.
Kota tersebut menampilkan kekuasaan dan prestise pemerintahan
Hellenistik, dan menjadi tempat pembelajaran dan kebudayaan, berpusat di
perpustakaan Iskandaria yang termasyhur. Dinasti berkebangsaan Yunani tersebut memerintah Mesir sampai 30 SM. Di bawah pemerintahan
Kleopatra, Mesir jatuh ke tangan
Kekaisaran Romawi dan menjadi salah satu
provinsi Romawi.
[117]
Pada abad ke-1 M, di kawasan
Tanduk Afrika, tepatnya di kawasan yang kini disebut
Ethiopia,
Kekaisaran Aksum
mendeklarasikan diri sebagai kerajaan niaga besar, mendominasi negeri
tetangganya di Arab Selatan serta menguasai perdagangan di
Laut Merah.
Di sebelah barat, Kerajaan Kush masih bertahan sampai abad ke-4 M,
sebelum digantikan oleh Kekaisaran Aksum. Kekaisaran Aksum mencetak mata
uangnya sendiri dan mengukir
stela monolitik seperti
Obelisk Aksum untuk menandai makam kaisarnya.
Amerika (2000 SM–500 M)
Sebelum kontak dengan bangsa Eropa, penduduk asli
Amerika Utara
terbagi menjadi sejumlah masyarakat yang berbeda-beda, dari sebuah klan
kecil hingga menjadi imperium besar. Mereka tinggal di beberapa area
kultural, yang berkaitan dengan zona geografis dan biologis, serta
mengindikasikan cara hidup atau pekerjaan masyarakat yang tinggal di
sana (contohnya pemburu
bison di
Dataran Besar, atau petani di
Mesoamerika). Pada
periode arkais di Amerika terjadi perubahan lingkungan yang membawa iklim kering yang lebih hangat dan punahnya sejumlah
megafauna.
[118]
Sebelumnya mayoritas kelompok populasi pada saat itu masih berupa kaum
pemburu-pengumpul; akhirnya beberapa kelompok individual mulai fokus
pada sumber daya lokal yang tersedia untuk mereka. Adaptasi regional
melahirkan norma-norma, dengan sedikit ketergantungan pada perburuan dan
pengumpulan makanan, dengan perekonomian yang lebih variatif yang
mengandalkan ikan, binatang buruan kecil, sayuran liar, dan tanaman
perkebunan.
[119][120]
Sementara itu kelompok masyarakat di selatan Amerika Utara
membudidayakan sejumlah tanaman pertanian yang kini lazim dijumpai di
seluruh dunia, di antaranya
jagung,
tomat, dan
labu.
Kerajaan-kerajaan regional Mesoamerika didirikan sejak sekitar 2000 SM.
[121] Di sana, masyarakat pra-Kolumbus yang luas sedang terbentuk, yang terkemuka adalah
Maya dan
Aztek. Seiring kebudayaan bangsa
Olmek perlahan-lahan surut,
[122] negara kota
bangsa Maya yang besar perlahan-lahan berkembang dalam hal jumlah dan
keunggulan, dan kebudayaan Maya menyebar sepanjang semenanjung
Yucatán dan daerah di sekitarnya. Kekaisaran
Aztek pada masa berikutnya dibangun oleh kebudayaan tetangganya dan mendapat pengaruh dari suku-suku taklukan seperti
Toltek.
Pada 2000 SM, sejumlah komunitas agraris bermukim di sekitar
Andes
dan kawasan sekelilingnya. Perikanan menjadi kegiatan lazim di
sepanjang pesisir sehingga ikan menjadi makanan pokok. Sistem irigasi
juga berkembang pada periode tersebut, yang mendukung terciptanya
masyarakat agraris.
[123] Tanaman yang dibudidayakan meliputi
kinoa,
jagung,
kacang lima,
kacang hijau,
kacang tanah,
manioc,
ketela,
kentang,
oca, dan
labu.
[124] Kapas juga dibudidayakan dan dianggap penting sebagai satu-satunya tanaman serat utama.
[123]
Dunia Timur (1000 SM–500 M)
Dunia Timur mengacu pada kawasan
Asia dan struktur sosial serta masyarakat di kawasan tersebut. Di kawasan tersebut terjadi perkembangan peradaban lembah
sungai Indus dan
sungai Kuning, masing-masing di
anak benua India (kini merupakan wilayah
India atau sebagian besar
Asia Selatan) dan
Timur Jauh (kini merupakan wilayah
Tiongkok dan sekitarnya), sejak lebih dari
3000 SM.
Sementara itu, migrasi masih terjadi di berbagai belahan Asia lainnya
dan peradaban yang lebih tua memberi pengaruh pada kawasan di
sekitarnya. Pada masa antara
1000 SM sampai
500 M, di beberapa kawasan Asia lainnya—seperti
Sri Lanka,
Asia Tenggara Daratan,
Semenanjung Malaya,
Indonesia,
Filipina,
Taiwan—kebudayaan
mandiri bermunculan dan berinteraksi dengan peradaban yang terlebih
dahulu berkembang dalam hal teknologi, kesenian, dan kepercayaan.
Seiring penyebaran
agama Hindu dan
Buddha, beberapa kerajaan muncul di
Sri Lanka dan
Asia Tenggara. Di pelosok dan tempat terpencil, masyarakat purba masih bermigrasi dan hidup sebagai
pemburu-pengumpul makanan.
[123]
Pada
milenium ke-1 SM, sejumlah monarki berdiri di beberapa titik di Asia. Pada awal milenium tersebut,
Dinasti Zhou berdiri di
Tiongkok, menggantikan
Dinasti Shang. Dinasti tersebut adalah dinasti pertama dalam
sejarah Tiongkok yang memperkenalkan konsep
Mandat Langit sebagai legitimasi kekuasaan.
[125] Pada periode yang sama, kerajaan
Gojoseon berdiri di
Korea (sampai
108 SM); kepulauan
Jepang masih berada dalam
Zaman Jomon yang berlangsung sejak 14.000 SM; di anak benua India, peradaban manusia masih berada dalam
periode Weda.
Anak benua India
Wilayah kekuasaan
Kemaharajaan Maurya (biru tua) dalam jangkauan terluasnya (tahun 265 SM), termasuk negara vasalnya (biru muda).
Dalam rentang
periode Weda (sekitar 1700 SM–500 SM) di
Asia Selatan, berbagai kerajaan yang dikenal sebagai
Mahajanapada (enam belas negara besar) berdiri di berbagai daerah di India sekitar
600 SM, sebagian besar tersebar di India Utara; beberapa di antaranya adalah
Kerajaan Kuru,
Kasi,
Kosala,
Awanti,
Angga, dan
Magadha.
Catatan sejarah mengenai kerajaan-kerajaan tersebut ditemukan dalam
pustaka Hindu dan Buddha. Beberapa abad kemudian, kerajaan-kerajaan
tersebut ditaklukkan oleh
Mahapadma Nanda dari kerajaan Magadha. Wilayah taklukannya terbentang dari
Teluk Benggala sampai
Laut Arab. Sekitar
300 SM, wilayah kekuasaan Nanda ditaklukkan oleh
Chandragupta Maurya, memicu berdirinya
Kemaharajaan Maurya. Pada
abad ke-3 SM, hampir seluruh
Asia Selatan disatukan ke dalam
Kemaharajaan Maurya oleh
Chandragupta Maurya dan berkembang dengan baik di bawah pemerintahan
Ashoka yang Agung.
Dinasti Satawahana,
juga dikenal sebagai Dinasti Andhra, berkuasa di India Selatan dan
Tengah setelah 230 SM. Satakarni—raja keenam dari Dinasti
Satawahana—menaklukkan
Kerajaan Sunga di India Utara. Kemudian
Kharavela, raja dari
Kalinga, memimpin suatu kerajaan
Jaina, yang memiliki jalur perdagangan maritim dengan
Sri Lanka,
Myanmar,
Thailand,
Vietnam,
Kamboja,
Kalimantan,
Sumatra, dan
Jawa. Imigran dari Kalinga menetap di Sri Lanka,
Maladewa, dan sejumlah pulau di
Asia Tenggara. Sementara itu di sebelah utara, di kawasan pegunungan
Himalaya,
Kerajaan Kuninda berdiri sejak
abad ke-2 SM, dan bertahan sampai
abad ke-3 M.
Kebudayaan campuran di India Barat Daya meliputi
Indo-Yunani,
Indo-Sithia,
Indo-Parthia, dan
Indo-Sassania. Yang pertama, Kerajaan Indo-Yunani, didirikan oleh Raja
Demetrius yang menginvasi region tersebut pada 180 SM, dan memperluas wilayah kekuasaannya ke kawasan
Afganistan dan
Pakistan masa kini. Indo-Sithia merupakan cabang dari bangsa Saka yang bermigrasi dari
Siberia Selatan, pertama menuju
Baktria, kemudian
Sogdiana,
Kashmir,
Arakhosia, dan
Gandhara, akhirnya mencapai India. Kerajaan Indo-Parthia (juga dikenal sebagai
Dinasti Pahlawa), datang menguasai sebagian besar kawasan
Afganistan dan
Pakistan Utara, setelah mengalahkan para raja di kawasan tersebut, di antaranya Kujala dari
Kushana.
Kekaisaran Sassaniyah dari
Persia memperluas wilayahnya sampai
Balochistan di Pakistan, sehingga perpaduan kebudayaan India dan Persia melahirkan kebudayaan campuran di bawah kuasa Indo-Sassania.
Zaman klasik India terjadi ketika sebagian besar wilayah anak benua India disatukan menjadi
Kemaharajaan Gupta (
k.320–550 SM).
Periode itu disebut juga Zaman Keemasan India dan ditandai dengan
sejumlah prestasi dalam bidang sains, teknologi, teknik, kesenian,
dialektika, sastra, logika, matematika, astronomi, agama, dan filsafat
yang menegaskan unsur-unsur yang umumnya dikenal sebagai
kebudayaan Hindu. Sistem
bilangan desimal, termasuk konsep
bilangan nol,
diciptakan di India selama periode tersebut. Kedamaian dan kemakmuran
yang tercipta di bawah pimpinan Dinasti Gupta memungkinkan pengejaran
prestasi ilmiah dan seni di India.
Sejumlah dinasti seperti
Pandya,
Chola,
Chera,
Kadamba,
Gangga Barat,
Pallawa, dan
Chalukya
mendominasi bagian selatan anak benua India pada periode yang
berbeda-beda. Beberapa kerajaan di selatan membentuk kerajaan maritim
yang terbentang hingga
Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan tersebut berperang satu sama lain, demikian pula dengan
kesultanan-kesultanan Dekkan demi dominasi di kawasan selatan. Dinasti Kalabra berhasil mendominasi Dinasti Chola, Chera, dan Pandya di selatan.
Asia Timur
Sekitar
abad ke-8 SM, terjadi
desentralisasi kekuasaan
Dinasti Zhou di Tiongkok. Akibatnya, negara-negara baru bermunculan di daratan Tiongkok. Di sebelah timur laut Tiongkok, berdiri kerajaan
Gojoseon yang muncul dalam catatan sejarah Tiongkok sejak
abad ke-7 SM.
[126] Di sebelah selatannya berdiri kerajaan lain bernama
Jin. Pada beberapa era berikutnya, kerajaan tersebut menjalin hubungan dengan
Dinasti Han di Tiongkok dan mengekspor artefak ke
Jepang.
[127]
Tahun
476 SM,
perang saudara terjadi di Tiongkok, dikenal sebagai
Periode Negara Perang.
Meskipun Dinasti Zhou telah digulingkan pada tahun 256 SM, perang
saudara terus berlanjut sampai tahun 221 SM. Akhir perang saudara
ditandai dengan penaklukan negara-negara di dataran Tiongkok oleh
Ying Zheng dari
negara Qin (setelah menjadi kaisar, ia mengganti nama menjadi
Qin Shi Huang). Dinasti yang diturunkannya disebut
Dinasti Qin. Dinasti tersebut digulingkan pada tahun 206 SM karena pemberontakan rakyatnya, dan digantikan oleh
Dinasti Han. Dinasti Han mengembangkan
kartografi
canggih, pembuatan kapal, dan navigasi. Di antara kekaisaran lain
selama periode klasik, Dinasti Han lebih maju dalam hal pemerintahan,
pendidikan, matematika, astronomi, dan teknologi.
Pada masa
Dinasti Han, terjadi perebutan kekuasaan di
Semenanjung Korea, yang pada masa itu merupakan wilayah Kerajaan
Gojoseon dan
Jin. Tahun 194 SM, Kerajaan
Gojoseon digantikan
Wiman Joseon setelah
kudeta terjadi. Pada 108 SM, pasukan Dinasti Han datang menaklukkan Wiman Joseon dan membentuk
Empat Komander Han. Akan tetapi semuanya direbut kembali oleh bangsa Korea. Pada
abad ke-1, Di bekas wilayah Gojoseon, berdiri negara-negara kompetitif dalam periode
Tiga Kerajaan Korea (
Goguryeo,
Baekje,
Silla).
Selain berperang satu sama lain, masing-masing kerajaan terlibat perang
dengan negara tetangganya: Tiongkok. Perang antara Tiongkok dengan
salah satu kerajaan di Korea terjadi dari periode Dinasti Han sampai
Dinasti Tang (
abad ke-7).
Dari
stepa Asia Tengah (sebelah barat daya Tiongkok), bangsa
nomad penunggang kuda memberi ancaman bagi kekaisaran Tiongkok. Pengembangan
sanggurdi
dan pengembangbiakan kuda cukup kuat untuk mengangkut para pemanah
bersenjata lengkap, sehingga bangsa nomad tersebut menjadi ancaman
terus-menerus bagi peradaban Tiongkok yang bertempat tinggal tetap.
Seiring dengan usaha ekspansi militernya, Dinasti Han kerap berseteru
dengan bangsa
Xiongnu,
nomad dari
Asia Tengah.
Pertikaian tersebut kerap diselesaikan dengan perjanjian damai dan
sering terulang kembali. Pemerintahan Kekaisaran Tiongkok sempat
digantikan oleh
Dinasti Xin yang berumur pendek, sebelum akhirnya kembali lagi pada Dinasti Han.
[128]
Detail kereta kuda pada cermin perunggu dari Tiongkok yang dikirim ke Jepang. Peninggalan dari
zaman Kofun (250 SM–538 M), ditemukan di Kikusui-machi, Kumamoto.
Antara 1000 SM sampai 400 SM, saat berbagai dinasti telah berdiri di Tiongkok, dan Gojoseon berdiri di Korea, kepulauan
Jepang masih berada pada
Zaman Jomon. Zaman tersebut digantikan oleh
Zaman Yayoi yang berlangsung dari 400 SM (abad ke-5 SM) sampai 250 M. Zaman Yayoi digantikan oleh
Zaman Kofun, karena banyak
kofun (
tumulus) yang ditemukan berasal dari zaman tersebut. Masa pendirian
Dinasti Yamato, yaitu garis keturunan
kaisar Jepang masih belum jelas karena berbaur dengan legenda; kaisar semi-mitologis terakhir adalah
Kaisar Ojin, dan pemerintahan kaisar-kaisar sebelumnya belum dapat dibuktikan secara arkeologis.
[129] Sejauh ini, catatan sejarah mengenai keadaan awal Jepang ditemukan dalam kitab kuno seperti
Nihon Shoki yang dipenuhi dengan legenda.
Setelah Tiongkok jatuh ke dalam
perang saudara pada tahun 220 (
abad ke-3), kekaisaran tersebut terbagi menjadi tiga kekuatan besar—
Wei,
Shu, dan
Wu—pada periode yang dikenal sebagai
Zaman Tiga Negara (220–280). Setelah berakhirnya
Zaman Tiga Negara, Tiongkok disatukan kembali di bawah
Dinasti Jin (265–420). Menurut catatan sejarah Tiongkok (
Kitab Jin dan
Kitab Song),
lima penguasa monarki dari
Jepang mengirim
upeti kepada Kaisar Tiongkok dari kalangan Dinasti Jin saat itu (
abad ke-5). Menurut catatan tersebut, Jepang disebut sebagai "Wa"
(倭?).
[130]
Bangsa
nomad
kembali menginvasi Tiongkok pada abad ke-4 M, dan berhasil menaklukkan
kawasan Tiongkok Utara dan mendirikan kerajaan-kerajaan kecil. Setelah
Dinasti Jin runtuh, Tiongkok jatuh dalam periode perang saudara dan
terbagi menjadi
enam belas negara yang saling menaklukkan.
Persia dan Timur Dekat
Persia, sebagaimana
Timur Dekat merupakan tempat perkembangan peradaban dan permukiman sejumlah suku, di antaranya
Elam dan
Mede. Sejak zaman kuno, terjadi hubungan antara kerajaan di Persia dengan kerajaan di
Mesopotamia. Tahun 646 SM, Raja
Ashurbanipal dari
Asiria menghancurkan kota
Susa, sehingga mengakhiri supremasi bangsa Elam di kawasan pesisir
teluk Persia.
[131] Selama lebih dari 150 tahun, para Raja Asiria di
Mesopotamia Utara berusaha menaklukkan
bangsa Mede di Persia Barat.
[132] Di bawah tekanan
kekaisaran Asiria, kerajaan-kerajaan kecil di sekitar plato Persia Barat bersatu menjadi suatu negara dengan pemerintahan terpusat.
[131] Pada pertengahan
abad ke-7 SM, bangsa Mede memperoleh kemerdekaan dan bersatu. Tahun 612 SM, bangsa Mede dan
Babilonia menggempur Asiria dan menghancurkan
Niniwe, ibukota Asiria, yang memicu jatuhnya
Kekaisaran Neo-Asiria.
[133] Bangsa Mede membuat tonggak bersejarah penting sebagai pembangun fondasi bangsa dan kekaisaran dalam
sejarah Iran, dan mendirikan kekaisaran pertama di Persia, sampai akhirnya
Koresh yang Agung mendirikan kekaisaran bersatu antara
bangsa Persia dan Mede, mengawali
Kekaisaran Akhemeniyah (
k. 550-330 SM). Pada akhirnya Koresh menaklukkan bangsa Mede,
Lidia, dan
Babilonia, dan mendirikan kekaisaran yang lebih besar daripada Asiria.
Lukisan pertarungan prajurit Persia (kiri) melawan
hoplites Yunani (kanan), pada sebuah
kylix kuno, dibuat sekitar
abad ke-5 SM.
Tahun 499 SM,
negara kota Athena mendukung pemberontakan di
Miletus yang mengakibatkan kehancuran di
Sardis. Hal ini mendorong terjadinya kampanye militer oleh Dinasti Akhemeniyah melawan
bangsa Yunani yang dikenal sebagai
Perang Yunani-Persia yang terjadi selama paruh pertama
abad ke-5 SM.
Selama Perang Yunani-Persia, bangsa Persia memperoleh sejumlah
kemudahan dan menghancurkan Athena pada 480 SM, namun setelah bangsa
Yunani meraih kemenangan, pasukan Persia terpaksa ditarik mundur saat
kehilangan kuasa atas
Makedonia,
Thrakia, dan
Ionia. Peperangan di akhiri dengan Perdamaian Callias pada 449 SM.
Alexander Agung dari
Makedonia
menaklukkan Persia pada tahun 331 SM. Imperium yang dibangun Alexander
terpecah-belah tak lama setelah kematiannya, dan salah seorang jenderal
Alexander,
Seleukos I Nikator, mencoba mengambil alih
Persia,
Mesopotamia, dan kemudian
Suriah dan
Asia Kecil. Garis keturunannya dikenal sebagai
Dinasti Seleukia. Selama masa Dinasti Seleukia dan sepanjang bekas imperium Aleksander,
bahasa Yunani
menjadi bahasa lazim dalam hubungan diplomatis dan sastra. Jalur
perdagangan di darat menyebabkan terjadinya pertukaran budaya.
Agama Buddha disebarkan dari
India, sedangkan
Zoroastrianisme menyebar ke barat dan memberi pengaruh kepada
agama Yahudi.
[134]
Kekaisaran Parthia merupakan wilayah kekuasaan
Dinasti Arsakia, yang menyatukan dan memimpin kembali plato Iran setelah menaklukkan Parthia dan mengalahkan
Kekaisaran Seleukia pada
abad ke-3 SM, dan perlahan-lahan menguasai
Mesopotamia antara 150 SM sampai 224 M. Pada periode yang sama, di sebelah barat, tepatnya
semenanjung Italia, suatu imperium yang disebut
Roma sedang berdiri. Bagi
bangsa Romawi yang bergantung pada
infantri berat, pasukan Parthia sulit dikalahkan karena
pasukan berkuda
mereka lebih cepat dari segi mobilisasi daripada tentara pejalan kaki.
Sebaliknya, pasukan Parthia merasa sulit mempertahankan daerah taklukkan
karena kurang cakap dalam peperangan kepung. Oleh karena kelemahan
tersebut, baik Roma maupun Parthia tidak mampu menganeksasi teritori
satu sama lain. Kekaisaran Parthia runtuh pada 224, ketika organisasi
imperium tersebut jatuh dan raja terakhirnya dikalahkan oleh bangsa
taklukkan mereka sendiri, yaitu bangsa Persia di bawah
Dinasti Sassaniyah.
Shah pertama dari
kekaisaran Sassaniyah,
Ardashir I,
mereformasi negeri tersebut secara ekonomi dan militer. Wilayah
kekaisaran tersebut mencakup kawasan yang kini merupakan wilayah negara
Iran,
Iraq,
Israel,
Lebanon,
Yordania,
Armenia, sebagian
Afghanistan,
Turki,
Suriah, sebagian
Pakistan,
Kaukasia,
Asia Tengah,
Arab, dan sebagian
Mesir.
Kekaisaran Sassaniyah menyerang
Bizantium yang dipimpin
Mauricius. Setelah sejumlah keberhasilan, pasukan Sassaniyah dikalahkan di
Issus,
Konstantinopel, dan terakhir di
Niniwe, selanjutnya di akhiri dengan perjanjian damai. Setelah mengakhiri
Perang Romawi-Persia, pasukan Persia kalah dalam
pertempuran al-Qâdisiyah (632) di
Hilla (kini merupakan wilayah
Irak) saat menghadapi pasukan
muslim. Keunikan dan budaya aristokratik dinasti tersebut mengubah
penaklukan Islam dan destruksi Iran menjadi Renaisans Persia.
[135]
Sejumlah budaya yang kini dikenal sebagai kebudayaan, arsitektur, dan
sastra Islami serta kontribusi lainnya terhadap peradaban tersebut,
diambil dari Persia Sassaniyah untuk dunia muslim yang lebih luas.
[135]
Eropa dan Mediterania (800 SM–500 M)
Di
Dunia Barat, bangsa
Yunani Kuno (dan kemudian
Romawi Kuno) mendirikan kebudayaannya sendiri yang pelaksanaan, aturan, dan adatnya dipandang sebagai fondasi bagi
peradaban Barat kontemporer. Peradaban mereka mencapai
Era Klasik (500 SM–500 M) yang mencakup periode
sejarah saat peradaban
Yunani Kuno dan
Romawi Kuno
saling melengkapi. Era ini adalah masa saat masyarakat Yunani dan
Romawi berkembang dan memegang pengaruh yang besar di seluruh Eropa,
Afrika Utara, dan Timur Tengah. Era ini dimulai dengan catatan pertama
puisi Yunani karya
Homeros (abad ke-8 hingga abad ke-7 SM) dan berlanjut dengan bangkitnya
Kekristenan dan
runtuhnya Kekaisaran Romawi (abad ke-5). Era ini berakhir dengan hilangnya budaya klasik dan berubah menjadi
Abad Pertengahan Awal
(500–1000 M). Dari pecahan-pecahan era klasik yang bertahan hidup,
gerakan kebangkitan terbentuk secara bertahap dari abad ke-14 yang
akhirnya dikenal di Eropa dengan nama
Renaisans.
Kekaisaran Makedonia
Sejak zaman kuno, tanah di sekitar
Aegae,
ibukota Makedonia pertama, merupakan permukiman bagi sejumlah suku.
Kerajaan Makedonia pertama terbentuk sekitar abad ke-8 atau awal abad
ke-7 SM di bawah Dinasti Argead, yang menurut legenda berasal dari kota
Argos di
Peloponnesus. Pada masa pemerintahan
Aleksander I, kaum Argead memulai ekspansi ke
Makedonia Hulu—yang saat itu dihuni suku seperti Linkeste dan Elmiote—dan ke sebelah barat, melewati
sungai Axius, mencapai
Eordaia,
Bottiea,
Migdonia, dan
Almopia, kawasan yang banyak dihuni oleh suku bangsa
Trakia.
[136] Di dekat kawasan yang kini merupakan kota
Veria,
Perdikas I (atau mungkin putranya,
Argaeus I) mendirikan ibukota, Aigai (kini disebut
Vergina). Setelah periode di bawah pemerintahan
Darius I dari Persia, Makedonia memperoleh kemerdekaannya di bawah kepemimpinan Raja
Aleksander I (495–450 SM).
Sebelum abad ke-4 SM, Makedonia meliputi region yang kira-kira seluas bagian
barat dan
tengah provinsi Makedonia di
Yunani kini. Negeri Makedonia bersatu didirikan oleh Raja
Amyntas III. Amyntas memiliki tiga putra; yang sulung dan tengah,
Aleksander II dan
Perdikas III memerintah hanya sekejap. Pewaris tahta Perdikas III yang masih kecil diberhentikan oleh putra ketiga Amyntas,
Filipus II,
yang mengangkat dirinya sebagai raja dan membawa periode kejayaan
Makedonia atas Yunani. Di bawah pemerintahan Filipus II, (359-336 SM),
Makedonia meluas hingga ke teritori suku
Paeonia,
Thrakia, dan
Illyria. Di antara penaklukkan tersebut, ia menganeksasi kawasan
Pelagonia dan
Paeonia Selatan.
[137]
Putra Filipus,
Aleksander Agung, berupaya agar hegemoni Makedonia tidak hanya di kawasan Yunani, tetapi juga di
Kekaisaran Akhemeniyah (Persia), meliputi
Mesir dan kerajaan-kerajaan jauh di timur hingga mencapai
India.
Gaya pemerintahan yang diadopsi Aleksander bagi daerah taklukkannya
diiringi dengan penyebaran kebudayaan Yunani di sepanjang imperiumnya.
Meskipun imperiumnya terbagi menjadi sejumlah rezim Helenistik tak lama
setelah kematiannya, penaklukkannya meninggalkan warisan abadi, tidak
terbatas bagi kota-kota Yunani yang didirikan di wilayah Persia Barat,
mengantarkan
Mediterania-
Timur Dekat pada periode
peradaban Hellenistik. Dalam pembagian imperium Aleksander, Makedonia sendiri jatuh pada
Dinasti Antipatrid, yang kemudian digulingkan oleh
Dinasti Antigonid tahun 294 SM.
Antipater dan putranya,
Kassander,
memperoleh kuasa atas Makedonia namun kerusuhan berkobar setelah
kematian Kassander pada 297 SM. Makedonia diperintah sementara oleh
Demetrius I (294–288 SM). Putra Demetrius,
Antigonus II (277–239 SM), mengalahkan invasi
Galatia sebagai
condottiere,
dan memperbaiki nama baik keluarganya di Makedonia; ia berhasil
memperbaiki sistem pemerintahan dan kemakmuran negerinya, meskipun ia
kehilangan banyak kendali atas sejumlah
negara kota di Yunani. Ia mendirikan monarki yang stabil di bawah kekuasaan
Dinasti Antigonid.
Saat pemerintahan
Filipus V (221–179 SM) dan putranya,
Perseus (179–168 SM), Makedonia berbentrokan dengan
Republik Romawi yang saat itu sedang melaksanakan hegemoninya. Selama abad ke-2 dan ke-1 SM, Makedonia terlibat dalam sejumlah
peperangan melawan Roma.
Dua kekalahan besar yang mengakhiri kejayaan Kerajaan Makedonia terjadi
pada 197 SM saat Roma mengalahkan Filipus V, dan 168 SM saat Roma
mengalahkan Perseus. Kekalahan Makedonia menyebabkan berakhirnya Dinasti
Antigonid dan pembubaran kerajaan Makedonia. Tahun 149 SM,
Andriskos
berhasil mendirikan kembali kerajaan tersebut namun kejayaannya tidak
berlangsung lama karena kekuatan Romawi berhasil mengalahkannya. Tak
lama setelahnya, pemerintah Romawi mendirikan
Provinsi Romawi Makedonia sehingga bekas kerajaan tersebut dikuasai oleh pemerintah Romawi sepenuhnya.
Kekaisaran Romawi
Romawi Kuno merupakan suatu peradaban yang bermula di kawasan yang kini disebut
Italia, pada
abad ke-8 SM. Menurut catatan sejarah
Ab urbe condita libri ("Catatan [Sejarah] Sejak Pendirian Kota [Roma]") oleh
Titus Livius, peradaban Romawi berawal dari pendirian kota
Roma oleh
Romulus dan Remus—keturunan
Aineias dari
Troya—pada tahun 753 SM. Romulus mengangkat diri sebagai
Raja Romawi pertama sejak Roma didirikan. Sebelum pendirian Roma, kawasan Italia didominasi oleh
bangsa Etruria (di region
Etruria). Akan tetapi, pengaruh Etruria terhadap perkembangan peradaban Romawi seringkali ditekan.
[138] Peradaban Romawi justru lebih dipengaruhi oleh peradaban Yunani, terutama melalui kegiatan perdagangan.
[139] Kerajaan Romawi memperluas daerah kekuasaannya melalui penaklukkan dan kolonisasi. Setelah diperintah oleh tujuh raja,
Kerajaan Romawi jatuh ke dalam perpecahan. Tahun 509 SM, Kerajaan Romawi berubah menjadi
Republik Romawi dengan sistem pemerintahan
republik oligarki. Republik Romawi yang bertahan selama kurang lebih 500 tahun, melemah dan runtuh melalui beberapa
perang saudara.
[d] Serangan bangsa
biadab di wilayah perbatasan makin mempercepat perpecahan internal.
Peralihan
Republik Romawi menjadi
kekaisaran berkembang pada masa peperangan melawan
Kartago dan
Kekaisaran Seleukia. Beberapa peristiwa banyak diajukan sebagai penanda peralihan dari
republik menjadi
kekaisaran, termasuk penunjukan
Julius Caesar sebagai
diktator seumur hidup (44 SM),
Pertempuran Actium (
2 September 31 SM), dan pemberian gelar
Augustus kepada
Octavianus oleh Senat (
4 Januari 27 SM).
[e]
Kekaisaran Romawi (
bahasa Latin:
Imperium Romanum) adalah periode pasca
-Republik Romawi, ditandai dengan bentuk pemerintahan
otokrasi dan wilayah kekuasaan yang lebih luas di Eropa dan sekitar Mediterania.
[140]
Suatu kekaisaran besar seperti Romawi bergantung pada pencaplokan
teritori secara militer dan pada susunan permukiman yang terlindungi
untuk menjadi pusat penghasil pangan.
[141] Perdamaian relatif yang dicanangkan suatu kekaisaran dapat menggiatkan
perdagangan internasional, terutama rute perdagangan sibuk di
Laut Tengah yang telah berkembang sejak
periode Hellenistik.
Kekaisaran Romawi menghadapi masalah umum yang berkaitan dengan
pemeliharaan pasukan yang berjumlah besar dan penyokongan terhadap
birokrasi pusat.
Pada masa pemerintahan Kaisar
Augustus (akhir abad ke-1 SM), Roma menguasai seluruh negeri di sekeliling
Mediterania (
Laut Tengah). Pada dua abad pertamanya, Kekaisaran Romawi mengalami kestabilan dan kemakmuran, sehingga periode tersebut dikenal sebagai
Pax Romana ("Kedamaian Romawi"). Romawi ini mencapai wilayah terluasnya di bawah kaisar
Trayanus (awal abad ke-2 M); pada masa pemerintahannya (98–117 M) Kekaisaran Romawi menguasai kira-kira
6,5 juta km
2 permukaan tanah, sebagian besar daerah Eropa dari
Inggris hingga
Mesopotamia.
[142]
Pada akhir abad ke-3 M, Romawi menderita
krisis yang mengancam keberlangsungannya, namun berhasil disatukan kembali dan distabilkan oleh kaisar
Aurelianus dan
Diokletianus.
Penganiayaan terhadap umat Kristen
berubah setelah Konstantinus Agung menjadi Kaisar dan menoleransi
ajaran para pengikut Kristus pada tahun 330 M. Sementara pada tahun 395 M
kematian
Theodosius kemudian membagi kekaisaran menjadi
Kekaisaran Romawi Barat dan
Kekaisaran Romawi Timur. Perpecahan
Kekaisaran Romawi secara berangsur-angsur
[142][143] terjadi beberapa abad setelah abad ke-2 M, bersamaan dengan penyebaran
agama Kristen dari
Timur Tengah ke barat.